Kematian Freddy Mercury (kakaknya Poppy Mercury) membuat gw dan seorang teman lawas SMP bernama Sugiyanto sedih yang teramat sangat mengingat kami berdua adalah penggemar berat group musik rock Queen. Freddy mati pada tanggal 24 November 1991 setelah bronchopneumonia menjadi parah yang dipicu oleh HIV yang dideritanya . Sungguh kami merasa sangat kehilangan. Kematian Freddy yang disebabkan AIDS menjadikan gw sangat benci sekaligus takut sama penyakit ini.
Kala itu, sekitar bulan Agustus 1994, akan diadakan study tour ke Bali untuk murid kelas 2. Terdengar di berita-berita dalam surat kabar bahwa Bali menduduki peringkat pertama penderita HIV/AIDS. Sungguh menakutkan, gw menjadi was-was karenanya. Sampai di Pulai Bali, setelah turun dari bus menuju tempat menginap di sekitar Kuta, gw dan Sugiyanto segera mengambil inisiatif dulu untuk mencari kamar yang paling strategis agar bisa nongkrong dan memelototi turis berbikini yang lewat depan jendela. Suit suit. Segera setelah melepas lelah sejenak gw dan Sugiyanto bergegas berganti baju terbagus agar bisa ngeceng di pantai setelahnya. Sugiyanto dengan kaos barunya yang ada tulisan PEPSODENT besar-besar di punggung segera menghampiri gw dikamar hendak mengajak gw untuk keluar. Sugiyanto punya dua kaos baru, satunya adalah kaos (AC) MILAN Ceramic. Tiba-tiba gw merasakan sakit teramat sangat diperut, ingin poop.
Betapa terkejut gw ketika masuk ke toilet hotel dan mendapati sesuatu yang amat sangat berbeda dengan apa yang biasa gw dapati, WC nya adalah WC duduk, sedangkan gw selama ini harus jongkok. Sedih sekaligus bingung. Selain menduga bakal susah keluar karena harus poop dalam posisi duduk, gw juga merasa jijik dan takut terkena HIV, karena mungkin toilet itu pernah ‘diduduki’ oleh turis asing yang (mungkin) membawa virus HIV. Naif memang. Gw yang terkenal dengan kecerdikannya (sambil membenahi kerah baju) segera keluar dari toilet sejenak untuk mengambil kresek-kresek bekas pembungkus sepatu. Dijajar-jajar dan ditata di sekeliling toilet, dan amanlah sekarang gw dari kekawatiran terkena HIV. Setelah duduk agak lama, hampir setengah jam, ternyata tidak ‘menelorkan’ hasil juga. Ternyata, secara psikologis, bukan ketakutan akan HIV yang menyebabkan ‘kemacetan’ ini, tapi juga karena ‘kebiasaan jongkok’ gw. Dengan serta merta, tanpa wigah-wigih dan malu (toh ga ada yang liat) gw langsung jongkok nangkring di atas toilet. Dan, I did it, meski suara ‘cemplung’ yang ditimbulkan menjadi lebih keras karena jaraknya menjadi lebih tinggi. Suara itu terdengar sampai ke Sugiyanto yang ada di luar kamar. Buru-buru menghidupkan kran air di bak untuk kamuflase. “Maaf, ini semua karena gw takut terkena HIV lho, bukan karena gw katrok....awas kalo dibilang katrok!!!! tak lempar dengan yang bunyi ‘cemplung’ tadi!!!!!awas.<gun>