sejanji sebegini saja berkisah

Blog Entrysayang bapak ibu (seri I)Feb 3, '08 2:54 PM
for everyone

Tidak seperti malam biasanya, udara di luar tidak begitu dingin hanya sekitar 5oC. Aku melihat ke luar jendela melalui balkon di samping kamar tidur. Winamp seri terbaru memainkan lagu Father’s Love yang dinyanyikan George Strait di komputer. Sejenak, aku menghela nafas merasakan rindu kepada orang tua di rumah, bapak dan ibu yang sekarang entah mungkin sedang menangis dalam sujud mereka saat tahajud. Ya, aku sedang rindu sama orang tua. Orang tua yang sangat menyayangi aku. Betapa, orang tua, bagi aku adalah sosok yang sangat aku hormati dan sayangi. Tidak pernah secuilpun kasih sayang mereka yang terlewatkan untuk anak-anak mereka.

Aku jadi teringat belasan tahun lalu ketika aku masih senang bermain paku. Dua buah paku dipakukan ke tanah dengan jarak sejengkal dan ditalikan karet gelang diantara keduanya. Kemudian di atas karet gelang diletakkan sebuah bunga bayam. Paku kemudian digetarkan dengan batu, dan berjalanlah bunga bayam itu seperti ulat berjalan di atas ranting. Selesai bermain paku, aku kemudian berlari-lari di sekitar tobong batu bata membawa tas kresek hitam untuk dipenuhi dengan abu sekam bekas membakar batu bata. “Ini nanti aku akan bawa pulang untuk ibu mencuci piring, sekarang aku simpan dulu kresek ini di antara tumpukan batu kali yang akan digunakan untuk membangun fondasi”. Lalu berlarianlah aku dengan teman sebaya, menuju ke sawah. Tidak pernah berpikir bahwa celana pendek warna putih ini akan susah sekali dicuci oleh ibu jika aku beterjunan ke dalam lumpur sawah yang belum sempat ditanami padi ini. Tapi bagaimana akan mendapatkan ikan jika tidak masuk ke dalam sawah, walalu cuma ikan sepat, pun akan lezat jika dibakar nanti bersama kawan sebaya. Setelah plastik kami penuh dengan ikan-ikan kecil, kami berlarian lagi menuju ke rumah-rumahan kami yang kami buat hari kemarin dengan menancapkan batang singkong, membentuknya seperti rangka rumah, dan menutupinya dengan dedaunan pisang yang kering. Inilah rumah kami.

Selesai dengan bakaran ikan yang lezat, datanglah seorang kawan dengan sepeda BMX baru, yang dirangka tengahnya masih dibungkus kardus coklat pembungkus rangka. Tanda kalau sepeda itu benar benar baru. Kami ternganga dibuatnya, aku dan kawan sebaya juga ingin memilikinya. Apalah daya, jika aku merengek minta sepeda, maka buku sekolah tidak akan terbeli dan SPP akan terlambat lagi. Bagaimana tidak, aku disekolahkan oleh ibu di Sekolah Dasar yang paling bagus di Jogja kala itu. Terimakasih ibu. Segera angan untuk memiliki sepeda itu buyar. Untunglah kawan yang mempunyai sepeda itu memperbolehkan aku untuk memegangi sepedanya sementara dia belajar mengendarai sepeda sambil dipegangi oleh aku. Jadi tahu cara belajar sepeda, meskipun belum pernah sama sekali menaikinya. Setelah puas memegangi teman yang belajar menaiki sepeda, aku segera beranjak pulang ingin mencoba belajar naik sepeda dengan sepeda onta milik eyang.

Sesampai di rumah, ternyata sepeda onta yang besar milik eyang masih tidak ada yang mau memakainya. Aku belajar naik sepeda. Pertama hanya bisa menuntunnya. Lama kelamaan aku beranikan diri untuk menaikinya walaupun pantat tanpa bisa pernah meraih sadel. Berkali kali jatuh tidak membuat aku hirau. Darah di lutut adalah perjuangan untuk bisa menaiki sepeda. Aku belajar, bahwa jatuh dan luka akan terasakan sangat perih jika kita sedih dan cengeng. Maka aku tidak akan pernah lagi untuk merasa sedih dan cengeng. Belajar dan jatuh. Hanya sore yang bisa menghentikannya. Aku belum berhasil menaiki sepeda. Tetapi aku tidak pernah mengatakan bahwa ketidakberhasilan sore ini karena sepeda yang kebesaran. Tidak lupa, sambil menuntun sepeda, aku mengambil bungkusan tas kresek hitam berisi abu sekam untuk ibu. Pulang.

Setelah meletakkan sepeda di tempat semula mengambil, aku kemudian menyerahkan bungkusan plastik kepada ibu. Ibu memeluk dan menciumi aku, mengangkat aku yang masih ringan dan mendudukkan aku di atas kursi kayu buatan bapak. “Terimakasih, Nak”, begitu ucapnya sambil membersihkan lutut tangan dan kaki aku yang penuh luka dengan iodium merah. Setelah mandi dengan air hangat rebusan ibu, aku dipanggil oleh bapak dan ibu di depan. Hari belumlah terlalu gelap. Bapak dan ibu membeli sepeda kecil untuk aku. Gembira bukan kepalang, walau sepeda yang mereka beli tidak baru. Sepeda yang penuh dengan las ditiap tiap sambungan rangkanya. Sadelnya pun tidak dibungkus, seperti seonggok logam penuh dengan karat. Aku belum tahu arti bersyukur kala itu, tapi hanya dengan mencium tangan bapak dan ibu sebagai tanda terimakasih, “Aku sayang sama Bapak dan Ibu”.

Besok pagi pasti akan ada banyak lagi luka di tangan dan di kaki. Aku sayang sekali dengan bapak dan ibu, terimakasih aku untuk bapak dan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan aku sampai sekarang aku sudah bisa membeli sepeda baru sendiri. Terimakasih.<gun>

He said daddies dont just love their children every now and then
Its a love without end, amen

 

Attachment: fathers love.mp3
Attachment: Coat Of Many Colors.mp3

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help