Menjadi manusia yang dikaruniai kelengkapan panca indera ternyata adalah berkah yang tiada terkira. Tapi, kadang kalau kita lihat di pinggir-pinggir jalan kota-kota besar banyak sekali kita jumpai pengemis yang berpura-pura atau malah sengaja menjadi cacat. Sungguh tidak bersyukur atas pemberianNya. Alloh bahkan tidak segan-segan akan memberi azab bagi orang-orang yang tidak bersyukur yang berpura-pura menjadi tidak sempurna -padahal sempurna- dengan azab yang ukurannya sesuai dengan kadar ketidakbersyukurannya.
Pagi ini, sehabis kuliah sesi kedua, beberapa menit sebelum lunch break, aku dan teman aku panggil saja David (aku gaulnya dengan orang Internasional jadi tidak heran jika temannya bule-*sombong mode on*), seorang teman berkewarganegaraan Italia, berjalan menuju halte trem hendak ikut pulang bersama aku. Letak halte berada sekitar 50 meter di seberang jalan depan kampus aku.
Kami berdua mulai berjalan menyeberang dan menyusuri sepanjang sisi kanan jalan. Lupa bahwa di Belanda, kendaraan berjalan di sisi kanan, kami berdua dengan santainya berjalan sambil bercanda seperti layaknya kawan semasa kecil (gojeg asu, Jawa-red), sambil saling mengejek. Hingga muncul sebuah guyonan tentang fisik, tinggi tubuh. Merasa kalah jauh, aku lalu minta David berjalan di atas aspal sementara aku berjalan di atas trotoar dengan maksud agar keliatan sama tinggi sambil tetap bercandaan. Tidak sadar jika David berjalan di atas rel trem. Aku melihat bahwa orang-orang yang menunggu di sekitar halte berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjukkan jari ke arah kami berdua. Mereka marah-marah dengan bahasa Belanda sambil menunjuk-nunjuk mengingatkan kalau di belakang ada trem mau lewat, kami diperingatkan untuk minggir. Tentu saja aku faham teriakan-teriakan mereka, sedangkan David yang tidak mengerti bahasa Belanda dengan santainya tetap bergurau. Kemudian, dengan serta-merta aku menarik David untuk minggir ke atas trotoar. Sesaat kemudian trem lewat tepat setelah aku menarik minggir David. Sekarang dia baru sadar kalau orang-orang meneriaki dia untuk minggir. Karena takut orang-orang di halte marah pada kami berdua, aku menawarkan ide untuk tidak jadi naik trem dan lewat aja, dan nanti jika dimarahi orang-orang maka aku akan bilang kalau David adalah penderita bisu-tuli, sehingga dia tadi tidak mendengar peringatan dari orang-orang. Dan David setuju. Berpura-puralah dia menjadi orang bisu tuli.
Benar, ketika kami melewati halte, semua orang marah-marah pada kami. Kamipun menjawab kalau David seorang yang bisu-tuli, diikuti gaya David dengan bahasa isyarat (orang bisu tuli). Aku yang berpura-pura bisa menterjemahkan bahasa isyarat kemudian berpura-pura berusaha menterjemahkan dan mengatakan maksud David meminta maaf kepada semua orang telah membuat mereka kawatir. Semua orang kelihatan memelas kepada David dan beberapa menepuk-nepuk pundak tanda bahwa kami bebas dari amarah mereka. Kamipun melenggang tanpa menoleh. Kemudian tersenyum simpul sambil saling memandang. Belum jauh kami berjalan, tiba-tiba kami ditepuk dari belakang oleh seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun yang tadi aku lihat berada dikumpulan orang-orang di halte. Dia berjalan diantara kami berdua sambil merangkul kami. Dia bisu beneran...........................tahu kalau kami bohong...................................................kami hanya bisa menelan ludah. Untung azabnya malu doang,,,,,,,,,.<gun>