*The modern term for this is dissociative identity disorder [from many sources]
by: Amaltia Gunawan
This is due to its original meaning of having two principals which opposite to one and another. As it is often broadcasted on television BBC channel during this decade, some of leaders -from countries which state that they are powerful enough to influence events throughout the world- have two standards in their making of policy. Mostly to policy which concerns about conquering less power countries of which they are sure of shooting that they are going to consecrate benefit to them. Remembering the statements from G.W. Bush to Iran about prohibiting them on having nuclear power plant [and any activities due to producing nuclear energy] while in the other hands, America itself has been creating nuclear-propelled weapons which might be more dangerous than Iran’s forthcoming nuclear power plant which is going to be used for generating energy.
Yes, it is mostly like it is previously said above that in cyber world, people who access internet tend to have double personalities. They have two personalities which might opposite one and another. Some of these people have more than two characters. When they are in the next state or character they don't know about their previous stage.
I have found these on my hypothesis. My observation about people’s behavior both in the cyber and real world finally round my assumptions -from when I was first connected to internet world- to reach my understanding about this behavior. What makes me surprised it that from my observation I find that one of my friends in my friend-list has almost ten behaviors of which he sometimes does not know in which character he is. He does not know that I completely take my eye on this. But it is funny when “they” put comments like “they” are different people, but they are. Many other stories about him, “them” and their behavior have made my extent of understanding people and what people do becomes deeper.
Moreover, what makes me struck is realizing that one of these people has made a story like it is true and aimed to scupper someone else. More like a psycho. This psycho always tells me about his story by emailing me every day. He, in his first role, is an architect [truly]. He has finished his undergraduate degree in architect department of major university in Yogyakarta. He told me that he fell in love with some one since he was a first year student. By his chance, he always put his days on admiring the one that he loves. Once, he revealed of what he fell inside, his heart was broken badly. And when he realize that he could not accept this he added one more character as of he is sure that this new character can occupy him to approach the one that he loves. Whenever he gets sad of being heart broken he switches to his other more social character, as a 19-year-old communication student in Jakarta. This has been done by so many reasons. He does this just to study the way how he can get closed to the one that he loves by changing way of approaching. Stories continue to be told everyday by email. It makes me more excited to follow the plot until what it is going to be ended in.
Tadi pagi saya main bola dengan kawan kawan orang Belanda. Sepanjang masa istirahat paruh waktu saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat dekat dari Italia, Davide. Kita mengobrol tentang dia yang dipanggil dengan sapaan D oleh keluarganya di rumah. Tentu saja masuk akal jika dia dipanggil dengan sapaan D karena inisial nama dia juga D dari kata Davide. Kemudian kami bermain tebak-tebakan mengenai nama sesuatu yang aneh yang diawali dengan huruf D, tentunya selain kata Davide yang “ANEH” itu. Banyak sekali, Dodol, Dapurmu, dll, sambil kami saling belajar mengenal kosa kata dalam bahas Italy dan Indonesia. Hingga suatu ketika saya jadi teringat sesuatu tentang letter D yang sampai sekarang ketika orang mengetahui hal ini untuk pertama kali, akan selalu bilang ”ANEH”. Ya, sayalah yang aneh itu, kaki saya berbentuk letter D, saya cacat.
Waktu itu, 3 bulan menjelang Ujian Akhir kelas 3 SMA, kami berencana bolos sekolah. Seperti biasa, idenya selalu aneh. Ide kami kala itu membolos sekolah dan pergi ke pantai Ayah di Kebumen bersepeda motor. Terlalu aneh hingga tersisa 6 orang dari kami yang setuju berangkat saat itu juga dengan mengendarai sepeda motor. Saya dibonceng oleh teman karena saya tidak punya sepeda motor. Layaknya anak muda seumuran kami, kami saling pacu kendaraan seolah-olah sedang balap motor di sirkuit. Hingga sampai di sekitar satu kilometer sebelum pantai Ayah, kami kecelakaan menghantam Truk. Saya tidak sadar, yang saya tahu hanya bahwa saya tiba tiba sudah berada di rumah sakit Bethesda, Yogyakarta dengan banyak luka dan kaki kiri yang dibalut dan dinaikkan ke atas, kaki kiri saya patah dan lutut kaki kiri saya hancur. Teman saya yang kebetulan orang kaya, langsung dibawa ke Singapura karena dia mengalami luka lecet di siku.
Sudah empat hari saya tinggal di rumah sakit, tapi saya belum juga ada kabar dari dokter untuk dioperasi, hanya digantung seperti itu saja. Hingga suatu pagi dini hari, secara tidak sengaja saya mendengar percakapan bapak dan ibu di luar kamar kelas 2 itu.
“Besok malam anak kita di operasi, Pak. Tadi siang ibu sudah ke tempat Pak De untuk pinjam uang, tapi tidak bisa karena sertifikat rumah kita sudah untuk meminjam uang buat modal usaha kemarin”. Terdengar helaan nafas dari bapak dan ibu. Setelahnya hening. Saya pura-pura memejamkan mata ketika bapak dan ibu masuk ke ruangan tidurku. Saya menangis dalam tidur menyesal telah membuat mereka bersedih.
Sore itu, soerang suster datang dan menyukur habis semua rambut di badan saya termasuk rambut di kelamin saya karena nanti malam saya sudah saatnya di operasi. Saya puasa 8 jam. Bapak, dan ibu datang ke kamar dengan wajah serupa orang bingung. Nampak duka di wajah mereka. Dengan serta merta, saya beranikan diri mengambil keputusan untuk saya sendiri.
“Pak, Bu, saya tidak usah dioperasi tidak apa-apa. Bawa saja saya ke Pak Haji di Salatiga. Selain tidak memungut biaya dari pasien, Gun pernah dengar beliau bisa menyembuhkan tulang patah, bahkan hancur seperti ini tanpa rasa sakit. Nanti sore ada teman datang membawa mobil dan mengantar kita ke sana. Jadi Bapak dan Ibu tidak usah memikirkan biaya operasi lagi”. Saya tutup muka saya dengan bantal sambil berurai air mata membayangkan jika hasilnya tidak sesempurna kalau saya dioperasi di rumah sakit bagus seperti ini. Tidak apa-apa cacat asalkan Bapak dan Ibu tidak bersedih memikirkan hutang untuk membayar kaki ini.
Tiba-tiba sebuah bola datang ke arah kami bercakap-cakap. Membuyarkan cerita saya ke David. Dia memberi pelukan, pelukan seorang sahabat.
"Satu letter D untuk kamu dari saya, De Striker", begitu dia bilang sambil menepuk-nepuk pundak saya.
”Hoi, saya datang” begitu saya menyahut kawan-kawan sambil berlari dengan kaki letter D saya. Saya striker di klub bola saya . <gun>
Hari pertama kuliah, Senin kemarin, setelah libur panjang keliling eropa, membuat saya bersemangat kembali untuk datang ke kampus. Saya memutuskan berangkat ke kampus dengan berlari, selain karena sepeda saya rusak, juga karena saya sudah terlambat 2 menit dari kelas Urban Water System Modelling. Saya kemudian berlari. Di tengah lari saya, sepatu saya patah. Sol nya yang sebelah kanan benar-benar patah. Saya berencana, sore sepulang dari kampus akan pergi ke tukang sepatu untuk memperbaikinya.
Sore hari, selesai kuliah, saya pergi ke tukang sepatu di De Hoven Passage, sebuah kompleks pertokoan modern tempat dimana ada sebuah toko yang menyediakan jasa mereparasi sepatu, selain tentunya menjual sepatu baru.
“Meneer, bisakah anda perbaiki sepatu saya ini? Solnya patah”, begitu saya utarakan maksud saya kepada tukang sepatu di situ.
“Kenapa tidak beli yang baru saja? Lagipula sepatu ini sudah jelek”. Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
”Baiklah, tapi ongkos memperbaikinya akan hampir sama dengan harga sepatu baru itu”, kata Meneer itu sambil menunjuk ke sebuah sepatu sejenis yang masih baru. Saya kembali tersenyum sambil mengernyitkan dahi.
Sepatu ini begitu berharganya bagi saya. Saya ingat sepatu ini pernah menyelamatkan nyawa seseorang yang terjepit di pintu kereta ekonomi di Yogya. Sepatu ini untuk mengganjal pintu kereta supaya orang yang terjepit waktu itu bisa melepaskan diri dari pintu kereta saat kereta akan berjalan. Lebih dari itu, sekitar lima tahun lalu, sepatu ini telah membantu menyelamatkan dua orang anak dari kelaparan sesaat. Tentu saja ketika sepatu ini masih baru.
Selesai melaksanakan sholat maghrib di sebuah masjid di dekat stasiun Jatinegara sehabis melakukan wawancara kerja di sebuah bank, saya bergegas memakai sepatu agar dapat mengejar keberangkatan kereta Bengawan Jatinegara-Lempuyangan yang berangkat jam 7. Seketika pandangan saya tertuju pada dua anak kecil yang saling memegang tangan di dekat tempat sampah besar berwarna kuning. Satu dari mereka mengais makanan dan menyuapkannya ke yang satu lagi. Saya dekati mereka tapi tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak mampu membelikan mereka makanan dengan uang di saku yang tinggal 50 ribu rupiah, setelah dompet saya (mungkin) jatuh di taksi saat perjalanan dari bandara, tapi untungnya kartu pengenal dan berkas lain masih di dalam tas. Sedangkan sekitar 30 ribu akan saya gunakan untuk membeli tiket kereta ekonomi, sisanya untuk ongkos perjalanan dari stasiun Lempuyangan ke rumah.
Serta merta muncul ide untuk menggadaikan sepatu ini ke seorang penjual kaki lima di dekat stasiun. Uang 20 ribu dari hasil menitipkan sepatu itu saya belikan sepasang sandal jepit, sisanya saya belikan dua bungkus nasi dan sebotol air kemasan. Saya berikan ke anak anak itu. Saya kemudian berlalu ke stasiun. Siang hari berikutnya, saya terbang kembali ke Jakarta untuk menebus sepatu itu.
Betapa berharganya sepatu berwarna coklat kecoa ini bagi saya. Ya, ini sepatu buah tangan bapak saya. Bapak saya seorang tukang sepatu yang tidak tamat SD. Namun, demi membuat anaknya berpenampilan gagah, bapak membuat sepatu ini untuk saya, dan saya selalu merasa gagah memakainya. Maafkan anakmu, Bapak, selalu menginjak-injak buah tanganmu dalam sepanjang anakmu menempuh perjalanan ini sampai sekarang. Tapi nama bapak selalu saya junjung tinggi di atas kepala.
“Meneer, sepatu sudah selesai diperbaiki, alsjeblift”. Kuulungkan kartu debet, kuucap terima kasih dan bergegas memakai sepatu berwarna coklat kecoa kebanggan saya ini. <gun>
Sungkem untuk Bapak dan Ibu.
Bagaimana kabar sawah dan tambak udang kita? Apakah sudah menghasilkan?
It’s hard to explain how a few precious things Seem to follow throughout all our lives After alls said and done I was watching my son Sleeping there with my bear by his side So I tucked him in, I kissed him and as I was going I swear that old bear whispered, Boy, welcome home (Kenny Loggins)
Cuaca di negara Belanda memang aneh. Bulan-bulan seperti sekarang ini seharusnya matahari selalu terik bersinar pada tiap-tiap harinya. Tapi tidak, hampir setiap hari kota kota di negara ini tertutup awan
Sangat berbeda sekali dengan cuaca di Indonesia. Ketika datang musim panas, maka selama itu pula tidak akan pernah datang hujan. Hujan datang pada akhir musim kering saja. Di saat itulah, saat yang ditunggu-tunggu bagi sebagian besar rakyat kita untuk mendapatkan air untuk sawah-sawah mereka. Tidak hanya itu saja, akhir musim kemarau adalah berkah bagi sebagian besar rakyat kita. Laron (Subterranean termite) bermunculan. Laron adalah serangga pemakan kayu bersayap hasil metamorfosis dari rayap yang terbang pada saat hujan pertama musim basah turun. Saat-saat inilah sebagian rakyat mendapatkan kecukupan asupan protein dari laron yang mereka tangkap, mereka goreng dengan tepung dan memakannya dengan nasi putih yang masih hangat. Sangat gurih memang.
Dalam bentuk metamorf yang lain, laron sangat merugikan manusia, rayap. Karena kebutuhan hidupnya akan sellulose harus terpenuhi maka dia memakan apa saja yang mengandung sellulose termasuk rumah atau bagian rumah yang terbuat dari kayu. Karena dianggap lebih banyak merugikan, banyak ahli menciptakan zat kimia pemusnah rayap. Mereka menciptakan berbagai macam jenis insektisida. Namun, setiap kali insektisida ini digunakan untuk memberangus mereka, mereka menjadi kebal terhadapnya.
Sebenarnya mudah sekali membunuh rayap. Tidak perlu menciptakan insektisida yang berbahaya bagi koloni lain di luar rayap. Tapi cukup dengan memisahkan dan mencerai-beraikan masing masing dari koloninya. Mengeluarkan individu rayap dari koloninya sama saja dengan membunuhnya. Mereka hanya bisa hidup jika (dan hanya jika) mereka berada dalam masyarakatnya (koloninya). Mengapa demikian? Karena di dalam koloninya terdapat bahan-bahan dan proses-proses yang dapat menjamin kelanjutan hidupnya.
Seperti inilah bangsa Indonesia. Jika ingin menghancurkannya, tinggal cerai beraikan saja. Tidak perlu dengan memborbardir perekonomian mereka segala. Pun, dengan membuat harga sembako naik melangit akibat harga pasaran minyak mentah dunia yang tidak stabil, niscaya akan saling berebut dan saling bunuh. Coba saja membuat perpecahan melalui tragedi semacam tragedi Monas kemarin, dan tragedi-tragedi berdarah sebelumnya. Bisa pula dilakukan dengan sedikit menghamburkan uang kepada para mereka yang kelaparan dan yang tak berrasio, pasti bisa. Tapi saya ga jamin loh akan berhasil jika mereka sudah mulai "berfikir". Sepertinya sekarang mereka lebih cerdas. Semoga. <gun>
Hydroinformatics deals with applying information technology to the problems of aquatic environment (Abbot 1991). Information technology (IT) is an all-embracing term which became fashionable in the mid-80s and which is applied to modern techniques associated with advanced computer system and data communications.
UNESCO defines IT as follows: “The scientific, technological and engineering disciplines, and the management techniques used in information handling and processing; their applications, computers and their interactions with mend and machines; and associated social, economic and cultural matters”.
The origins of IT lie in the ‘microchip revolution’ of the 1970’s which caused the price of computers to decrease substantially in the 1980-90’s. The amount of information generated and processed per unit of cost is increasing exponentially, and much faster than the amount of physical objects manufactured. Even more, it is now realized that economic prosperity cannot come only from the building and selling of the physical machines that process data. It comes primarily from creating the intellectual tools that exploit these inanimate machines and give meaning to the data. The creation of useful objects is ‘technology’; data with meaning is called ‘information’.
Computer Science (CS) refers to theoretical aspects of IT, of computer design, computer programming, information processing, computer graphics and theoretical aspects of the algorithm solution of problems. The term informatics is quite close to IT, with some social emphasize on technology use. We will not investigate differences in terminology, so IT and informatics will be used as equivalent.
Among the most important applications of IT and CS in the water resources, we could identify the following ones:
Building computer-based models aiding in solving many problems which were impossible to solve using previously adopted physically-based scale models;
Organizing storing, retrieving data about water resources in computer-based databases;
New ways of describing and processing data, including techniques coming originally from artificial technology and operations research – artificial neural networks, global optimization, fuzzy logic;
Organizing geographically-referenced data in geographical information system (GIS);
Using global positioning system (GIS) for the accurate identification of objects’ position;
Using data communication networks, including Internet and mobile telephony, for more efficient distribution of work and knowledge and reliable fast communications.
There are many tools for solving aquatic-engineering problem, but hydroinformatics is the most sophisticated way. Here, born new knowledge.
Acknowledgments
I would like to express my gratitude to my professors:
Professor Michael Abbott, Professor Rolland K. Price and Professor Dimitri Solomatine for this great new science you have dispersed out. I would like to achieve as much as you have achieved. Thank you for the idea for my thesis.
I love hydroinformatics science since the first time I started studying few months ago. Love this much.
Sesuai kritik yang dilemparkan kawan Radix di LINK ini, atas nama pribadi, perkenankan saya memberikan tanggapan.
Saya secara pribadi, yang kebetulan juga sebagai salah satu chair person merasa senang bisa ada yang mengkritik, bisa membangun pola pikir kita supaya lebih maju, secara pribadi saya mengucapkan terimakasih. Ini biasa bagi saya. Tapi mungkin untuk bisa mengkritik Kawan harus proporsional, tidak hanya dengan melihat acara secara sekilas langsung bisa memutuskan kalau pelaksanaan ISSM (Indonesian Student Scientific Meeting 2008) GAGAL TOTAL.
1. Mantan presiden yang tidak bisa jadi hadir
Sepengetahuan saya, saya secara pribadi bisa bilang kalau panitia bukan mengembor-gemborkan secara bombastis. Panitia sudah berusaha maksimal untuk meminta kesediaan BJ Habibie menjadi keynote speaker, tapi tetap keputusan untuk datang ada di beliau. Apa yang panitia sampaikan dari pertama kepada publik mengenai kedatangan mantan presiden diacara ISSM 2008 ini merupakan proposal, sedangkan ternyata dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang panitia harapkan. Ini karena masalah waktu dan keluangan. Sedangkan panitia tidak bisa memaksakan merubah jadwal pelaksanaan ISSM menjadi waktu kapan beliau bisa hadir. Panitia harus mempertimbangkan juga kedatangan pembicara lainnya yang mempunyai waktu dan bisa hadir sesuai dengan jadwal dari panitia. Hal ini, saya rasa sering terjadi dalam perencanaan suatu kegiatan, ada kegagalan dan ada kesuksesan dalam hal pengaturan kedatangan pembicara. Tinggal nanti bagaimana pertanggungjawaban panitia kepada pemberi mandat dan penyokong dana.
2. Tingkat partisipasi sangat rendah.
Ini memang sangat disayangkan, dimana ajang seperti ini adalah event dimana para intelektual muda Indonesia berkumpul untuk memberikan sedikit kontribusinya kepada bangsa Indonesia. Paling tidak, dengan kehadiran dari para warga Indonesia yang sedang bersekolah di luar negeri pada acara ISSM 2008 ini memberikan motivasi dan antusiasme kepada para ilmuwan Indonesia yang hadir pada acara ini. Satu hal yang penting, dengan banyaknya yang hadir maka akan banyak pula yang memberikan kritik dan saran supaya apa yang disampaikan para ilmuwan yang kita banggakan di ISSM ini benar-benar bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Saya secara pribadi, sudah melihat bagaimana panitia berusaha mempublikasikan event ini sebaik dan seprofesional mungkin, baik melalui website http://www.issm2008.eu/ , melalui undangan secara pribadi, melalui mailing list, media massa, dan media invitaiton yang lain. Sangat disayangkan memang, mengingat ada ribuan warga negara Indonesia yang bersekolah di luar negeri, mereka juga bisa berkontribusi walaupun hanya sebagai audience, tidak hanya pelajar di Delft saja yang notabene hanya sekelumit jumlahnya. Saya secara pribadi juga mengharapkan kehadiran pelajar dari kota lain, tapi yang datang bisa dihitung dengan jari.
3. Pemilihan moderator sangat buruk
Event ini diselenggarakan di Kota Delft, yang notabene semua pelajar yang sekolah disini adalah pelajar dengan keunggulan dibidang Teknik, dibidang exacta, bukan dibidang komunikasi dan sosial seperti para pelajar di kota lain yang sedang belajar ilmu sosial dan komunikasi. Tidak mudah memilih moderator dari sekelumit pelajar di Delft. Bahkan saya pribadi menyaksikan betapa sulitnya mencari moderator. Bahkan untuk session chair Ilmu-ilmu politik, panitia sudah minta kesediaan teman teman yang mempelajari ilmu sosial dan komunikasi, tapi panitia banyak sekali mengalami kesulitan dalam meminta kesanggupan teman teman tersebut. Tapi mengkritik dengan menunjuk nama saya rasa kurang proporsional jika disampaikan sebagai kritikan terhadap panitia. Harus didiferensiasi dan dibedakan, bukan.
4. Seluruh acara diadakan dengan kaku
Secara pribadi saya merasakan hal yang sama, tapi ini bukan lantas menjadi stereotipe bahwa mahasiswa Teknik adalah mahasiswa yang kaku. Jika kawan semua melihat pelaksanaan tidak di awal saja, tapi secara keseluruhan sampai akhir acara, maka kawan semua akan tahu kenapa dan apa yang menyebabkan atmosfer kekakuan ini. Perlu diingat [jika kawan melihat berita], bahwa terjadi kebakaran yang menyebabkan collapsenya satu gedung di TU Delft, dan gedung ini kebetulan dekat dengan acara pelaksanaan ISSM hari kedua. Semua panitia dibuat panik dan harus bekerja extra keras untuk mengatasi hal ini. Sedikit waktu bagi panitia untuk membantu mencairkan suasana. Saya rasa untuk mencairkan dan mengakrabkan suasana bukan melulu kewajiban panitia, tapi dari masing masing individu seperti Kawan yang waktu itu datang. Jika satu orang seperti Kawan yang datang pada saat itu ikut mengakrabkan suasana, maka suasana keakraban dari Kawan akan tertular kepada yang lain. Satu lagi, ternyata setelah acara ini selesai, 5 pasang peneliti akan melanjutkan hubungan mereka diluar penelitian. Mungkin ini bisa menjadi parameter betapa akrabnya suasana ISSM 2008.
5. Hanya acara terakhir dengan panitia dari PPI Wageningen yg cukup sukses.
Wah akhirnya ada satu acara yang Kawan akui sukses. Walaupun secara pribadi saya tidak hanya akan mengakui satu dari banyak kegiatan saja yang sukses mengingat bencana katastropik dan kesulitan lainnya yang panitia hadapi.
bahwa objektif dari ISSM 2008 sudah tersampai. ISSM 2008 bertujuan untuk membangun, mengembangkan, dan memupuk kerjasama ilmiah dan tenknis antara peneliti, akademisi Indonesia dengan partner mereka di luar negeri khususnya peneliti dari negara negara di Eropa. ISSM 2008 juga bertujuan untuk menginternsifkan peran peneliti dan akademisi khususnya dalalm bidang agribisnis, bioteknology, nanoteknologi, sosial dan politik, teknik, teknologi, informasi, energi, lingkungan dan ilmu alam.
Hal ini dibuktikan dengan setelah selesainya acara ini, banyak sekali peneliti yang akan melakukan join research, bahkan dengan keynote speaker. Selain itu disampaikan pula kalau gayung akan bersambut dengan akan diadakannya pertemuan ilmiah lanjutan bulan oktober 2008 yang akan diusung oleh tim dari kedutaan.
Saya merasa senang sekali bahwa mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri sudah mulai terbangun pola pikir yang maju dan tidak anti kritik. Mari kita budayakan kritik tanpa melupakan proporsionalitas. Jangan lupa ya, kalau kita juga perlu melakukan auto kritik. Jangan lupa juga, nanti kalau sudah pulang ke Tanah Air tetap budayakan kritik mengkritik yang proporsional. Jangan kaku hati. Sapa tahu kritiknya membuat kita semakin maju.
selain di sini, tanggapan juga disampaikan di LINK ini
--------------------
Bentar ya kawan,,,,mo ambil cermin dulu,,,mo ngaca,,,apa diri saya udah bener apa belum,,,Makasih Kawan.
Tiba pertama kali di sini untuk belajar pada bulan September lalu, selain membuat nganga karena baru pertama kali melihat apa yang namanya negara orang lain, juga membuat aku bangga karena bisa dapet beasiswa yang untuk mendapatkannya aku harus kuras energi, pikiran dan waktu. Setelah sampai di Schipol, aku dijemput dengan mobil dari universitas dan diantarkan sampai ke tempat tinggal baruku. Dennis, adalah orang yang menjadi sopirku waktu itu. Terlibatlah kita dengan obrolan, ternyata Dennis ada darah Jawanya, sama seperti aku. Dua jam yang sangat akrab.
Hingga suatu ketika, dalam perjalanan itu, aku dibuat heran sama keadaan kota-kota di negara ini. Aku sahutkan pertanyaan ke Dennis.
“Kok semua orang disini pada males nyapu halaman ya? daun dimana mana ndak disapu,,,,pating bleder,,,,,kelihatannya mereka maju tapi kok ndak pernah nyapu halaman ya?, aku kalo dirumah selalu nyapu halaman pake lidi,,,”, begitu tanyaku sama Dennis.
“Emang lu mau nyapuuuiinnn???Udik lu,,,yang namanya musim gugur ya gini,,,,,sono noh kalo mau nyapu,,,hahhahahahahaha,,,,kalo ga pingin urat lenganmu putus,,,mau pake sapu lidi???”, seloroh Dennis sambil menepuk bahuku keras.
Oh,,,,musim gugur ya,,,?????Ndak pernah ngerti. Ndak mudheng aku,,,,
Ah coba datangnya pas bulan Januari aja yaaa,,,,waah bisa bisa aku jualan es soda gembira disini,,,ndak usah nggosrok es batunya ,,, ;p <gun>
Berada di negara orang untuk beberapa lama ndak mungkin akan aku sia siakan hanya untuk belajar dan berorganisasi saja. Lebih dari itu, seorang Amaltia Gunawan akan jengah jika tiap hari hanya menghabiskan energi untuk keliling kota
Delft. Hampir tiap akhir minggu selalu keluar kota mencari teman baru, entah itu teman sesama anak bangsa atau teman dari berbangsa-bangsa yang lain.
Bulan Februari lalu, saat masih musim salju, aku ajak seorang teman cewe dari Vietnam pergi ke kotaAmsterdam. Dia anak yang luguuuu abis, hanya tau seputaran Delft dan jalan menuju kampus. Selain aku ajak melihat-lihat show barang-barang haram yang dipajang berjejer-jejer di etalase seputaran red light district, dia juga aku ajak sedikit memicingkan mata bahwa kehidupan itu tidak hanya berwarna putih dan hitam saja, sepanjang tau bagaimana kita menempatkan diri secara bijaksana dalam kehidupan yang penuh warna ini. Puas mencuci mata (bagi saya, bagi dia ndak kaleee), kami habiskan malam dengan makan sekenyang kenyangnya di semacam KFC di dekat Dam Square, Amsterdam. Karena lelah seharian, berbotol-botol air putih dalam kemasan Spa Blaukami teguk. Tersisa setengah botol, dimasukkannya ke dalam tas sebagai bekal melepas haus di jalan.
Tidak tahu harus kemana menghabiskan malam, akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan malam dengan keliling kota
Amsterdam naik trem. Trem akhirnya berjalan terlalu jauh keluar kota Amsterdam, sampai kami memutuskan untuk berhenti di halte terdekat. Malam mulai dingin, sementara kami harus menunggu trem berikutnya menuju kota.
Kedinginan membuat air Spa Blaumengalir hingga ke ujung, dan sudah sulit terbendung lagi. Ndak ada WC, pun kami sudah terlalu jauh dari pemukiman, adanya hanya hamparan jalan beraspal dan kanal-kanal terbuka, bahkan semak-semak untukku melepas hajatpun ndak nampak. Tapi otak kancil ini tak kehabisan akal. Aku minta botol minuman Spa Blauyang masih tersisa setengah tadi dari temanku. Buru-buru, di dalam halte yang terbuat dari kaca, aku balik badan menghadap pojok halte, sementara dia berjalan ke luar halte dan berdiri disamping halte. Aku lepas hajatku dalam botol, tapi sayang, sedikit susah diarahkan, sehingga air kencing belepotan sampai ke luar botol. Selesai membuang hajat, botol aku letakkan di pojok halte.
Dengan serta-merta, tiba-tiba tanganku dipegang dari belakang oleh seorang berpakaian polisi, dan seorang lagi melihat dari dalam mobil polisi.
“Kamu tau ga!!? kalau membuang sampah sembarangan kamu bisa kena denda minimal 30 Euro??!”, dengan mata melotot sambil memegang botol dengan tangan kiri dan tangan kanan menunjuk-nunjuk ke botol.
HIYEEEEKKK,,,,,Meneeeerrrr,,,,,,hahahhaa,,,itu tadi botol udah belepotan kencing ku,,,kok malah dipegang-pegang??!!!??hahahhahaa,,,,,,
Aku yang tak tahan untuk tidak ketawa akhirnya ambil botol itu dan membuang ke tempat sampah. Bingung bagaimana mengelap tanganku, aku salami meneer Polisi sekalian minta maaf. Ku tepuk pundaknya [dengan maksud sambil ngelap..... ;p] membuat meneer polisi itu luluh juga dan mempersilahkan aku menunggu trem kembali.
PUASSSSSSSSS...pertama tangan kirimu, tangan kanan, lalu bajumu meneerrrr,,,kenaaa deeh,,,,,
HAHAHAHA,,PUASSSS,,,DARIPADA BATU GINJAL,,,,YA GA MENEEERRR,,,????,,TOSSSS MENEEERR. <gun>
*hahahaha,,,aku dadi ngguyu2 dewe kelingan iki,,,hahahhaha,,TOSS
Tadi malam aku chat dengan kawan menggunakan fasilitas ym. Seperti biasa, chatting membicarakan tentang kehidupan yang diselingi dengan canda dan tawa. Hingga, kami sampai pada obrolan tentang pengalaman dia ketika pertama kali harus poop pada toilet duduk. Ternyata, dunia itu sempit. Sangat mudah bagiku menemukan orang-orang yang naif dan ndeso seperti diriku ini. Setelah mengakhiri chatting dengan kawanku, aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan hal yang hampir sama seperti apa yang dialami kawanku itu, tentang poop. Ternyata masih banyak hal yang bisa ditulis tentang poop.
Datang pertama kali di negeri yang asing tidak langsung membuatku gegar budaya dan ndak bisa ngapa ngapain kalo ndak nanya sama orang. Aku, Amaltia Gunawan, adalah orang dengan gengsi tinggi, sungkan bertanya sama orang kalo bukan masalah yang urgensi (baca urchensi,,,tanya sama pak Harto kalo ndak percaya). Hari pertama tiba, aku udah langsung cek dan beres beres rumah. Langsung, setelah selesai beres beres rumah, aku pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja makanan dan kebutuhan sehari hari. Setelah hampir selesai membeli semua hal yang diperlukan, aku ingat bahwa ndak ada kertas tissue di toiletku. Segera aku ambil satu pak berisi 20 piecestissueberwarnawarni. Aneh ya disini, kertas toilet aja sampai berwarna warni gini, dasar negara maju. Sudah selese dengan semuanya, aku bergegas pulang.
Sudah dua minggu aku menempati rumah baruku di sini. Selama dua minggu itu pula, aku merasakan hal yang baru, poop tidak dibasuh dengan air, cukup dibersihkan dengan tissue. Menjijikkan memang, apalagi bagi aku yang terbiasa cebok dengan air (bukan daun talas ya,, emang duluuu). Selama dua minggu itupun aku merasakan lubang pantatku perih karena harus selalu dihapus dengan kertas tanpa air sedikitpun. Tapi untungnya cuma sedikit baret-baret (emangnya layar Hape??).
Sampai suatu ketika, kawan baruku dari Italy, Davide, menginap dan harus poop di toiletku pagi itu. Belum lima menit dia poop, dia sudah teriak keras keras dan ngomel ngomel memanggil aku.
“Goblog,,,,ini tissue bukan toilet paper,,,ini TOWEL PAPER,,buat di dapur, buat lap tangan !!!monyong!!”, teriak dia dari dalam toilet.
Ups,,,pantesaaaaaan,,,,toilet paper kok berwarnawarni, bErTextuR pula,,,pantesan periiihh,,,,baret baret,,,,,,,. Ah ya udah, wong kertas toiletnya masih banyak juga sayang kalau dibuang, paling masih bisa buat 2 minggu lagi. Perih perih dah ndak urusan, daripada buang buang Euro. Besok lagi kalo belanja mau nanya-nanya dulu ah, seperti kata pepatah “Daripada malu bertanya, lebih baik sesat di jalan”. <gun>
NOTE
quoteku hari ini:
seperti pepatah bilang:
“Guru kencing berdiri, dua tiga pulau terlampaui,,," <--------- jauh amirrrrr mancurnyaaa.....
Hal yang paling mengharukan dalam hidupku salah satunya adalah ketika aku lulus SMA, walalupun saat itu aku harus lulus dengan kaki patah akibat bolos sekolah dan kebut-kebutan sampai di Kebumen. Begitu pula kawanku, si Ima, yang akhirnya lulus juga setelah dia tidak yakin dirinya akan lulus, secara dia termasuk dalam geng Kurawa, gengnya anak anak nakal tempat kami nongkrong dan berbagi tentang kenakalan masa remaja.
Seminggu setelah perayaan kelulusan, Ima yang anaknya orang kaya mengajak kami teman satu geng merayakan kelulusan dia dengan makan-makan di Moro Lejar, sebuah restoran alam dengan menu utama ikan dan segala masakan yang berbau Jawa. Dengan mengendarai sepeda motor cara anak muda, kami berlimabelas berangkat ke restoran di sekitar Kaliurang, Jogja. Itu pertama kali aku makan di restoran gede. Benar benar tempat yang pas untuk merayakan kelulusan bersama geng (secara gratis gitu loh, makanya dibilang passss). Segera setelah masuk, aku sebagai ketua geng memesan duluan.
Biar tidak terlihat ndeso, aku memesan makanan yang namanya asing ditelingaku, seperti Ikan Gulung Bakar, Cumi Asap Bumbu Manado, dan sebuah minuman yang sebenarnya tidak asing bahkan biasa, Es Soda Gembira. Meskipun namanya tidak asing dan sangat biasa, tapi bagiku saat itu adalah kali pertama aku minum Es Soda Gembira. Es yang diminum dengan air soda putih. Teman-teman yang lain kebetulan memesan minuman berbeda dengan ku. Segera setelah pelayan datang membawakan pesananku, tanpa basi basi langsung aja aku siap siap menyantap semua hidangan yang sudah aku pesan.
Seperti yang aku liat di televisi, maka aku memulai dengan minum seteguk dua teguk hidangan minuman.
Buju buneng, perasaan aku sebelumnya cuma pesan satu minuman Es Soda Gembira, tapi entah kenapa dihidangkan dua macam minuman, satu dalam gelas satunya lagi dalam botol semacam fanta tapi berwarna bening. Aku segera minum yang ada di dalam gelas, sepertinya susu, sirop merah, dan es batu. Terlalu pekat bagiku untuk diminum. Susah sekali disedot dengan sedotan. Lalu aku aduk, tetap saja susah karena pekat sekali. Jadi salah tingkah sendiri karena tidak bisa minum minuman yang pekat itu. Aku putus asa. Lalu aku akhirnya minum yang ada di dalam botol. Busyetttt,,ternyata rasanya hambar dan dilidah seperti ada semutnya, sangat tidak enak. Aku berpikir saat itu apa aku salah memesan minuman.
Tanpa pikir panjang, akhirnya aku menyuruh temanku yang lain untuk memesan minuman yang sama denganku.
“Eh ini soda gembira enak loh, kalian harus memesannya”
Padahal dihati, aku hanya ingin melihat bagaimana cara mereka minum Es Soda Gembira ini. Biar tidak terlihat ndeso.
Buju buneeeeeeeengg,,,ternyata setelah pesanan mereka Es Soda Gembira datang, teman-temanku meminumnya dengan cara menuangkan air di dalam botol fanta itu kedalam gelas, baru setelah itu diaduk. Busyeeet pantesan susah amat di aduk, disedot sampe mulut peyot juga ga bakal bisa.
Oh jadi gitu ya cara minum Es Soda Gembira. Lain kali pesan jeruk anget aja dah, kalo nggak ya es teh aja. <gun>
*cara paling cerdas agar tidak terlihat ndeso adalah dengan jangan mendahului teman dalam memesan makanan di restoran mahal*
Ternyata sekarang dia sudah tidak lagi menggunakan rice cooker itu untuk menyimpan beras. Tapi, untuk memelihara ikan-ikannya semenjak aquarium yang dulu kuberikan padanya pecah. Itupun setelah kuberi tahu kalau aquarium itu bukan untuk menyimpan tumpukan pakaian kotor seperti saat pertama kali aquarium itu kuberikan padanya.
ternyata setelah gw selidikin,,,,,,,buju buneeeeeeeengggg,,,,,memang deh,,,bener benerr,,,,,,ga habis pikir deh ternyata yang menyebabkan listrik jakarta sering mati tuh ternyata ini to,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
jadi tau kalo ternyata wanita itu kadang suka terpojok dalam situasi seperti memakan buah simalakama,,,wakakakkaka,,,loh kok???
waktu gw kecil,,gw tuh ya,,,ga sebegitu senang idupnya kaya sekarang,,,sekarang bisa sedikit ongkang ongkang kaki, kaga usah nyari duit buat sekolah pun ada nyang bayarin,,sekarang mah gratisss,,tisss,,,,nah dulu,,boro boro,,,,pingin beli buku RPUL buat SD kelas 5 gw harus kerja sampingan (tapi bokap nyokap kaga tau,,bisa dihajar gw kalo tau),,maklum lah,,,gw kaga mo beratin bokap nyokap,,,
waktu itu kelas 5 SD, selain dagang koran, gw juga dapet kerja jadi sales madu,,,tapi gw cuman ngedampingin doang,,jadi nyang nawarin ntu orang yang udah gede,,gw cuma sekedar bawa bawain tas berisi botol2 itu,,,secara masih kecil lum bisa ngomong bokis kaya dia,,,
waktu itu gw bersama partner gw (ceileee,,parter) mo nawarin madu ke ibu ibu PKK di sebuah RT di pinggir kota Jogja,,,setelah basa basi membuka acara demo khasiat madu ke ibu ibu,,teman gw ituh langsung tanpa panjang lebar masuk ke sesi tanya jawab ma ibu2:
..........................bla bla bla................................
tapi gw heran,,,dagangan kita sama sekali ga laku,,gw ga ngeh waktu itu,,kenapa ibu2 pada ga jadi beli,,dan marah marah
,,gw cuma ingat beberapa kata kata dia nyang waktu itu dia omongkan sebelum ditinggal pulang sama ibu ibu:
Sales : Ibu2,..pilih Madu, apa Racun ????
Ibu2 serempak : MADU !!!!
Sales : Ibu2 pilih Di madu, apa Di Racun,.??
Ibu2 : ...?????? *ngeloyor satu satu*
nyahok ,,,,hahahahha,,,,biar mbak Tiwi, bunda Rani dan bu'e V Ris marah marah,,,ga trima kaumnya di madu dan diracun,,,
Menjadi naif mungkin bukan hanya trade mark nya Tukul Arwana saja, tapi ternyata kadang gw sering merasa naif juga, sehingga kadang ga sadar sering menertawakan diri sendiri. Ini gw sadar kalo gw selama ini naif ya ketika gw di sini, bah.
Dulu waktu gw kecil, ketika gw masih SD kelas 2, gw ada tetangga seorang professor yang ngajar di UGM. Beliau sering banget pergi ke luar negeri untuk penelitian ato apalah. Negara yang paling sering beliau kunjungi adalah Nederlands. Waktu itu, ketika gw habis sunatan, professor itu datang nengok gw sambil bawa oleh oleh dari Nederlands buat gw, keju. Keju yang berbentuk bola bola kecil dan berwarna merah di luar, tapi berwarna kuning di dalem, maklum gw lum pernah tau makanan jenis ini sebelum itu. Gw makan tuh keju dengan lahap, orang baru pertama kali makan keju juga. Tapi rasanya emang sedikit aneh sih, agak agak pahit gimanaa gitu,,,sepet sepet sedikit. Tapi yang warna kuningnya kaga pahit. Setiap kali professor tetangga gw itu pulang dari Nederlands, tak lupa dia selalu kasih itu oleh oleh bwat gw, karena beliau tahu gw suka banget keju itu. Udah berpuluh-puluh tahun gw ga ngerasain itu keju sejak beliau wafat tahun 1993.
Siang ini gw belanja di Albertheijn supermarket. Rencana sih gw mau masak buat teman gw Dutch asli yang mo dateng siang ini. Di supermarket itu gw kaget setengah mampus, secara gw melihat makanan yang dulu waktu gw kecil adalah makanan kesukaan gw. Ya, keju itu. Keju yang seperti oleh oleh dari professor tetangga gw itu. Namanya edammer cheese. Keju, yang di luarnya berwarna merah dan didalamnya warna kuning muda. Oh god, gw seneng banget bisa mengenang masa kecil gw yang suka banget makan itu keju. Gw beli segepok dan gw bawa pulang.
Siang ini sebelum gw posting blog ini, temen gw dateng. Karena gw lum sempat masak, akhirnya dia gw suguhin ajah tuh keju. Akhirnya gw ma dia makan keju itu. Karena saking kangennya ama makanan ini, gw makan buru-buru, takut dia lebih banyakan dari gw,,hehehe. Tapi gw heran, dia kaga makan juga, cuman ngliatin gw makan keju doang. Heran deh. Gw nanya ke dia dalam bahasa Belanda seadanya dicampur bahasa Inggris.
“Lah, kan tinggal makan juga susah amat, emang harus pake sendok gitu,,,ah elu”.
“Bukan gitu,,,,,lu tu goblog apa kaga tau? yang lu makan sekarang itu,,yang warna merah itu,,itu bungkusnya,,,itu wax,,dari lilin,,,lu cukup makan yang kuningnya doang”.
“Gleg......jadi selama ini sejak gw kecil ituh gw makan keju sama bungkusnya yak? pantesan sepet sepet pait,,,”. Dan herannya, gw tetep makan tuh keju sama bungkusnya ampe habis....rugiiii dong,,,,,mahal. <gun>
Kematian Freddy Mercury (kakaknya Poppy Mercury) membuat gw dan seorang teman lawas SMP bernama Sugiyanto sedih yang teramat sangat mengingat kami berdua adalah penggemar berat group musik rock Queen. Freddy mati pada tanggal 24 November 1991 setelah bronchopneumonia menjadi parah yang dipicu oleh HIV yang dideritanya . Sungguh kami merasa sangat kehilangan. Kematian Freddy yang disebabkan AIDS menjadikan gw sangat benci sekaligus takut sama penyakit ini.
Kala itu, sekitar bulan Agustus 1994, akan diadakan study tour ke Bali untuk murid kelas 2. Terdengar di berita-berita dalam surat kabar bahwa Bali menduduki peringkat pertama penderita HIV/AIDS. Sungguh menakutkan, gw menjadi was-was karenanya. Sampai di Pulai Bali, setelah turun dari bus menuju tempat menginap di sekitar Kuta, gw dan Sugiyanto segera mengambil inisiatif dulu untuk mencari kamar yang paling strategis agar bisa nongkrong dan memelototi turis berbikini yang lewat depan jendela. Suit suit. Segera setelah melepas lelah sejenak gw dan Sugiyanto bergegas berganti baju terbagus agar bisa ngeceng di pantai setelahnya. Sugiyanto dengan kaos barunya yang ada tulisan PEPSODENT besar-besar di punggung segera menghampiri gw dikamar hendak mengajak gw untuk keluar. Sugiyanto punya dua kaos baru, satunya adalah kaos (AC) MILAN Ceramic. Tiba-tiba gw merasakan sakit teramat sangat diperut, ingin poop.
Betapa terkejut gw ketika masuk ke toilet hotel dan mendapati sesuatu yang amat sangat berbeda dengan apa yang biasa gw dapati, WC nya adalah WC duduk, sedangkan gw selama ini harus jongkok. Sedih sekaligus bingung. Selain menduga bakal susah keluar karena harus poop dalam posisi duduk, gw juga merasa jijik dan takut terkena HIV, karena mungkin toilet itu pernah ‘diduduki’ oleh turis asing yang (mungkin) membawa virus HIV. Naif memang. Gw yang terkenal dengan kecerdikannya (sambil membenahi kerah baju) segera keluar dari toilet sejenak untuk mengambil kresek-kresek bekas pembungkus sepatu. Dijajar-jajar dan ditata di sekeliling toilet, dan amanlah sekarang gw dari kekawatiran terkena HIV. Setelah duduk agak lama, hampir setengah jam, ternyata tidak ‘menelorkan’ hasil juga. Ternyata, secara psikologis, bukan ketakutan akan HIV yang menyebabkan ‘kemacetan’ ini, tapi juga karena ‘kebiasaan jongkok’ gw. Dengan serta merta, tanpa wigah-wigih dan malu (toh ga ada yang liat) gw langsung jongkok nangkring di atas toilet. Dan, I did it, meski suara ‘cemplung’ yang ditimbulkan menjadi lebih keras karena jaraknya menjadi lebih tinggi. Suara itu terdengar sampai ke Sugiyanto yang ada di luar kamar. Buru-buru menghidupkan kran air di bak untuk kamuflase. “Maaf, ini semua karena gw takut terkena HIV lho, bukan karena gw katrok....awas kalo dibilang katrok!!!! tak lempar dengan yang bunyi ‘cemplung’ tadi!!!!!awas.<gun>